Dari Swedia ke Bojonegoro, Pakar Biodiversitas Berbagi Ilmu Konservasi untuk Mahasiswa Bojonegoro
BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id – Mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan Fakultas Sains dan Teknik (Saintek) Universitas Bojonegoro (Unigoro) mendapatkan wawasan tentang konservasi keanekaragaman hayati dari perspektif internasional melalui kuliah umum daring yang digelar Program Studi Kimia, Selasa (30/6/2026).
Kuliah umum internasional tersebut menghadirkan praktisi dari University of Gothenburg, Swedia, Kennet Lundin, Ph.D., yang dikenal memiliki spesialisasi di bidang ilmu kelautan. Kegiatan ini menjadi kuliah umum internasional pertama yang diselenggarakan oleh Program Studi Kimia Unigoro.
Dalam pemaparannya, Kennet menjelaskan bahwa keanekaragaman hayati atau biodiversitas merupakan seluruh variasi makhluk hidup di bumi, mulai dari tumbuhan, hewan, mikroorganisme hingga ekosistem tempat mereka hidup. Menurutnya, keberadaan biodiversitas memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.
"Berkurangnya keanekaragaman hayati dapat menyebabkan ekosistem menjadi tidak seimbang, meningkatkan risiko munculnya hama dan penyakit, serta mengancam keberlangsungan hidup manusia," terangnya.
Kennet mengungkapkan, salah satu ancaman terbesar terhadap biodiversitas saat ini berasal dari aktivitas manusia, terutama eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan secara berlebihan.
Untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, lanjutnya, para ilmuwan menerapkan dua pendekatan konservasi, yakni konservasi di habitat asli (in situ) dan konservasi di luar habitat asli (ex situ). Pendekatan ex situ dilakukan melalui berbagai fasilitas seperti kebun raya, kebun binatang, bank benih, hingga museum.
"International Union for Conservation of Nature sebagai organisasi internasional memiliki peran menyusun red list untuk menilai tingkat ancaman kepunahan berbagai spesies di dunia. Selain itu perkembangan teknologi, termasuk AI (artificial intelligence), mulai dimanfaatkan untuk membantu pemantauan sekaligus pengelolaan keanekaragaman hayati secara lebih efektif," jelas Kennet yang memiliki spesialisasi di bidang ilmu kelautan.
Ia menambahkan, kombinasi konservasi in situ dan ex situ terbukti lebih efektif dalam melindungi sekaligus memulihkan keanekaragaman hayati dibandingkan jika kedua metode tersebut diterapkan secara terpisah.
Kuliah umum yang dipandu Dr. Amanda Pradhani Y., S.Pd., M.Pd., berlangsung interaktif. Mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan Unigoro memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi langsung dengan pakar biodiversitas dunia mengenai tantangan dan strategi konservasi di tingkat global.
Editor : Arika Hutama