Wisata Bojonegoro Jalan di Tempat? 90 Persen Lebih PAD Masih Disokong Dua Destinasi Ini

Tim iNews Bjn
Wisata Kayangan Api dan Dander Park. Foto: istimewa

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Bojonegoro dinilai masih belum merata. Hingga kini, pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor wisata sebagian besar masih bertumpu pada dua destinasi utama, yakni Kayangan Api dan Dander Water Park.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, Lukiswati, mengungkapkan bahwa ketergantungan pada dua lokasi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Kondisi ini tercermin dari komposisi pendapatan pariwisata daerah yang belum banyak berubah.

Dalam tiga tahun terakhir, PAD sektor pariwisata Bojonegoro menunjukkan tren fluktuatif. Pada tahun 2023, PAD pariwisata tercatat sebesar Rp 1,06 miliar. Angka tersebut menurun pada 2024 menjadi Rp 859 juta, sebelum kembali meningkat signifikan pada tahun 2025.

Pada 2025, Dander Water Park menjadi penyumbang PAD terbesar dengan pendapatan mencapai Rp 497,9 juta, disusul Wisata Kayangan Api sebesar Rp 480,8 juta. Dengan capaian tersebut, kedua destinasi ini menyumbang lebih dari 90 persen total PAD sektor pariwisata Bojonegoro.

Selain dua destinasi unggulan tersebut, kontribusi juga datang dari Gedung Serba Guna sebesar Rp 133,9 juta dan Waduk Pacal Rp 65,9 juta. Sementara itu, sejumlah objek wisata lain seperti Galeri Bengawan, Rumah Singgah Wonocolo, Pesanggrahan Klino, dan Padangan Heritage turut menyumbang PAD, meski nilainya masih relatif kecil.

“Sementara objek wisata lainnya juga berkontribusi, meskipun belum terlalu besar,” ujar Lukiswati, dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Lukiswati menegaskan, Disbudpar Bojonegoro terus melakukan pembenahan dan inovasi di berbagai aspek, mulai dari peningkatan fasilitas, kebersihan, keamanan, hingga promosi destinasi wisata.

“Kami berkomitmen meningkatkan kualitas layanan dan daya tarik destinasi wisata agar pariwisata Bojonegoro semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap PAD serta kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro saat ini juga gencar mengembangkan kawasan geopark sebagai alternatif penguatan sektor pariwisata. Geopark merupakan kawasan geografis tunggal yang memiliki warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya yang saling terkait, dikelola secara terpadu untuk perlindungan, edukasi, serta pengembangan ekonomi berkelanjutan melalui geowisata.

General Manager Geopark Bojonegoro, Kusnandaka Tjatur Prasetijo, saat menerima kunjungan Vice President of UNESCO Global Geopark (UGGp) Prof. Ibrahim Komo, yang juga ahli geologi terkemuka asal Malaysia, bersama timnya, mengunjungi objek wisata geologi Kayangan Api Bojonegoro, Sabtu (17/1/2026) malam, menjelaskan bahwa pengembangan Geopark Bojonegoro telah dimulai sejak 2017 dan terus mengalami perkembangan, meski sempat menghadapi berbagai tantangan, termasuk pandemi Covid-19.

Geopark Bojonegoro memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan geopark nasional lainnya, yakni berbasis minyak dan gas bumi (migas). Namun, karakteristik tersebut sekaligus menjadi tantangan, mengingat sumber daya migas tidak bersifat terbarukan.

Harapan kami terdapat masukan, evaluasi atau peguatan guna menuju persiapan UNESCO,” kata Kusnandaka.

Saat ini, Geopark Bojonegoro masih dalam proses pengajuan pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp). Pertanyaannya, mampukah destinasi wisata berbasis geopark ini menarik minat wisatawan dan menjadi sumber PAD baru bagi Bojonegoro di masa depan?

Editor : Dedi Mahdi

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network