Kabar Baik! 27 Anggrek Endemik Hutan Bojonegoro Ditemukan, Usai Habitatnya Ditebang

Arika H.
Tim ekspedisi dari LPPM Unigoro saat menemukan Anggrek endemik Hutan Bojonegoro. Foto: iNews Bjn

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Upaya penyelamatan anggrek endemik Bojonegoro membuahkan hasil. Tim dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Bojonegoro bergerak cepat melakukan eksplorasi setelah habitat alami Dendrobium capra ditebang pada akhir Desember 2025. 

Dalam penelusuran selama dua hari, tim menemukan 27 individu anggrek yang dikenal sebagai larat hijau.

Eksplorasi dilakukan pada 14–15 Februari 2026 dengan menyasar sejumlah titik, antara lain RPH Sukun, kawasan Sendang Legok, Makam Terminal Betek Temayang, serta RPH Dodol. Kegiatan ini melibatkan Tim Jelajah Taman Bumi dan puluhan relawan.

Ketua LPPM Unigoro, Dr. Laily Agustina R., S.Si., M.Sc., menjelaskan, pada hari pertama tim menemukan dua individu D. capra di dua pohon kawasan Makam Terminal Betek. Pencarian berlanjut ke RPH Dodol dan membuahkan temuan 20 individu di empat pohon. 

Saat kembali melakukan penyisiran di Makam Terminal Betek, tim kembali menemukan lima individu tambahan.

“Total keseluruhan ditemukan 27 individu D. capra. Hasil ini sangat di luar ekspektasi kami,” ujar Laily, Senin (16/2/2026).

Laily yang juga tergabung dalam Tim Teknis Badan Pengelola Geopark Nasional Bojonegoro menilai temuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat data keanekaragaman hayati daerah. 

Dendrobium capra telah tercantum dalam dokumen dossier pengajuan pengakuan Geopark Bojonegoro sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp).

Menurutnya, temuan ini perlu segera dikomunikasikan dengan Perhutani Bojonegoro guna menentukan kawasan perlindungan, meski area tersebut berstatus hutan produksi. 

“Perhutani harus aware terhadap keberadaan D. capra agar ada langkah perlindungan yang jelas,” tegas dosen Program Studi Ilmu Lingkungan Unigoro tersebut.

Sebagai tindak lanjut, sejumlah sampel anggrek akan direintroduksi ke lokasi yang lebih mudah dijangkau. Langkah ini dilakukan agar asesor UNESCO dapat melihat langsung spesies endemik tersebut saat proses penilaian UGGp pada Juli mendatang.

Dalam eksplorasi, tim tidak hanya menelusuri hutan jati yang berpotensi menjadi habitat anggrek, tetapi juga melakukan observasi visual pada batang dan cabang pohon, dokumentasi fotografi, serta pencatatan detail lokasi temuan.

Anggrek larat hijau diketahui tumbuh menempel (epifit) pada pohon jati tua berusia lebih dari 50 tahun. Karakter batang yang kasar, stabil, serta mampu menjaga kelembapan menjadikan pohon jati tua habitat ideal bagi spesies endemik tersebut.

Editor : Dedi Mahdi

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network