BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Limbah tongkol jagung dan botol kaca yang selama ini mudah dijumpai di Kabupaten Bojonegoro dimanfaatkan mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Bojonegoro (Unigoro) menjadi bahan campuran beton.
Inovasi tersebut dikembangkan Sigma Team, kelompok Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Unigoro.
Penelitian bertajuk Inhibitor Reaksi Alkali-Silika Berbasis Silika Amorf Pozzolanik Dari Abu Tongkol Jagung Untuk Meningkatkan Durabilitas Beton Agregat Kaca itu mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) RI.
Ketua Kelompok Sigma Team PKM-RE Unigoro, Ahmad Qoirul Anam, mengatakan penelitian tersebut dilakukan selama tiga bulan bersama empat anggota lainnya.
Dalam riset itu, tongkol jagung terlebih dahulu diolah menjadi abu untuk menggantikan sebagian bahan semen. Sementara itu, botol kaca digerus hingga menjadi serbuk untuk menggantikan sebagian bahan pasir.
“Kedua bahan tersebut menjadi bahan tambahan dalam pembuatan beton non struktur. Komposisinya serpihan botol kaca disubtitusi menjadi pasir sebanyak 30 persen. Lalu untuk ASR (Alkali-silica reaction, Red) kita membuat varian 5%, 10%, dan 15% dari abu tongkol jagung,” tuturnya, Selasa (8/9/26).
Menurut Anam, penggunaan serbuk botol kaca sebagai substitusi pasir sebelumnya telah diteliti. Namun, material tersebut memiliki persoalan berupa potensi terjadinya retak mikro.
Kondisi itu terjadi karena kaca mudah memuai ketika berada pada suhu tinggi sehingga dapat memicu terbentuknya banyak rongga pada beton. Dari persoalan tersebut, Sigma Team mengembangkan gagasan untuk menggunakan abu tongkol jagung guna mengatasi reaksi alkali-silika atau ASR.
“Akhirnya kita memiliki ide untuk menambahkan abu tongkol jagung tersebut untuk mengatasi ASR atau reaksi alkali-silika. ASR itu memiliki kandungan silika 21% dan untuk mengobatinya kita butuh komposisi abu tongkol jagung sebanyak 15%. Idealnya memang 15%,” papar Anam.
Selama tiga bulan penelitian, para mahasiswa tidak hanya mengolah bahan limbah. Mereka juga melakukan serangkaian tahapan, mulai dari pembuatan abu tongkol jagung, preparasi kaca, pembuatan beton, hingga pengujian di sejumlah laboratorium.
Untuk memperkuat data penelitian, pengujian juga dilakukan di laboratorium Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Salah satu anggota Sigma Team, Hanifa Nur Aziza, mengatakan beton hasil riset tersebut ditujukan untuk penggunaan nonstruktural.
“Beton berbasis abu tongkol jagung dan serbuk kaca cocoknya diaplikasikan untuk pembuatan gandar atau u-ditch dan paving block. Karena sesuai standar yang digunakan untuk beton non struktur,” imbuh Hanifa.
Setelah seluruh tahapan riset rampung, Sigma Team kini berfokus menyusun laporan dan artikel ilmiah. Mereka juga masih berupaya meningkatkan kualitas beton yang dihasilkan.
“Kami juga ingin menyempurnakan lagi karya betonnya dengan penambahan zat perekat agar kuat tekan betonnya semakin meningkat,” tandasnya.
Editor : Arika Hutama
Artikel Terkait
