get app
inews
Aa Text
Read Next : Operasi Keselamatan Semeru 2026 di Bojonegoro Mulai Hari ini, Berikut 10 Pelanggaran yang Disasar

Akademisi Surabaya Dukung Pengembangan Energi Nuklir, PLTN Dinilai Kunci Swasembada Energi

Senin, 02 Februari 2026 | 08:04 WIB
header img
Ilustrasi, pembangkin tenaga nuklir. (Foto: Gemini AI).

SURABAYA, iNewsBojonegoro.id - Kalangan akademisi di Surabaya, Jawa Timur, menyatakan dukungan terhadap agenda pengembangan energi nuklir yang didorong Presiden Prabowo Subianto dan diemban Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN), Bahlil Lahadalia. Energi nuklir dinilai memiliki keunggulan teknis, ekonomi, dan strategis dalam mewujudkan swasembada energi nasional.

Peneliti Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ir Ary Bachtiar Krishna Putra, ASEAN Eng, menegaskan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) unggul dari sisi densitas energi. Menurutnya, dengan jumlah bahan bakar yang relatif kecil, PLTN mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil.

“PLTN itu unggul dari sisi densitas energi. Dengan bahan bakar yang sangat kecil, kita bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil,” ujar Ary dalam diskusi bertajuk Swasembada Energi di Era Prabowo: Antara Agenda Strategis dan Tantangan Implementasi di Surabaya, Minggu (1/2/2026).


Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Hendry Cahyono dalam diskusi swasembada energi di era Prabowo. (Foto: ist)

Selain itu, Ary menyebut PLTN sebagai sumber energi bersih karena tidak menghasilkan emisi karbon dioksida dalam proses pembangkitannya. Hal tersebut menjadikan energi nuklir sejalan dengan target penurunan emisi nasional.

“Secara proses, nuklir itu bersih. Tidak ada emisi karbon, yang ada hanya panas untuk memutar turbin,” jelasnya.

Ia menilai tantangan utama pengembangan PLTN di Indonesia bukan terletak pada teknologi, melainkan pada penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur, serta integrasi dengan kawasan industri. Ary juga menyoroti masih kuatnya persepsi negatif masyarakat terhadap energi nuklir yang dinilai berbahaya bagi lingkungan.

“Teknologi sekarang jauh lebih aman dibanding masa lalu. Sistem makin otomatis, kontrol ketat, dan ketergantungan pada faktor manusia semakin kecil. Risiko bisa ditekan sangat rendah. Jika dibandingkan, pembangkit fosil justru jauh lebih mencemari,” katanya.

Dari perspektif ekonomi makro, ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Hendry Cahyono menilai pengembangan energi nuklir berpotensi meringankan beban fiskal negara. Selama ini, ketergantungan impor energi disebut menjadi salah satu faktor penekan APBN dan neraca perdagangan.

“Dalam prinsip ekonomi, jika input energi lebih murah, output juga bisa lebih murah. Jika listrik dari PLTN lebih efisien, masyarakat tentu akan memilih karena lebih terjangkau. Indikator kesejahteraan paling sederhana bagi masyarakat adalah harga,” ujar Hendry.

Ia optimistis pemanfaatan energi nuklir dapat mempercepat target elektrifikasi 100 persen, khususnya di wilayah Indonesia timur yang hingga kini masih minim akses listrik.

“Jika kebutuhan domestik terpenuhi dan kapasitas berlebih, peluang ekspor listrik ke negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura terbuka. Ini bisa menjadi peran strategis Indonesia di kawasan,” ungkapnya.

Hendry juga mendukung penunjukan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Harian DEN. Menurutnya, penambahan mandat tersebut mencerminkan kepercayaan pemerintah terhadap kemampuan Bahlil sebagai eksekutor kebijakan energi.

“Kalau seseorang diberi tanggung jawab tambahan, berarti ada kepercayaan atas kinerjanya. Artinya, ada ekspektasi bahwa kinerjanya tidak hanya memenuhi target, tetapi melampaui,” katanya.

Sementara itu, dari sudut pandang kebijakan publik, dosen dan peneliti Unesa Ahmad Nizar Hilmi, MPA, menilai rangkap jabatan Menteri ESDM sebagai Ketua Harian DEN dapat memperkuat efektivitas kebijakan energi melalui satu garis komando perencanaan dan eksekusi.

“Kalau bicara teknis, ini bisa efektif,” ujar Nizar.

Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya tata kelola dan transparansi, terutama dalam proyek energi strategis bernilai investasi besar. Pemerintah, menurutnya, perlu terbuka kepada publik mengenai aktor industri, penyedia teknologi, dan mekanisme tender.

Dari sisi substansi, Nizar menilai pembahasan PLTN semakin relevan, terutama dalam konteks transisi energi dan komitmen penurunan emisi karbon. Ia juga menyinggung potensi cadangan uranium di Kalimantan Barat sebagai sumber daya pendukung PLTN nasional.

Meski demikian, ia menekankan bahwa faktor keamanan harus menjadi perhatian utama, diiringi dengan edukasi publik agar masyarakat tidak lagi memandang energi nuklir sebagai ancaman.

“Ada dua jenis mitigasi bencana, yaitu struktural dan non-struktural. Selama ini kita lebih fokus pada struktural, padahal edukasi publik sebagai mitigasi non-struktural juga sangat penting,” pungkasnya.

Editor : Arika Hutama

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut