BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id – Hari ketiga asesmen lapangan dan validasi Aspiring UNESCO Global Geopark (aUGGp) Bojonegoro menjadi kesempatan bagi dua asesor UNESCO untuk mengenal lebih dekat kekayaan hayati dan budaya yang dimiliki Kabupaten Bojonegoro.
Sejumlah lokasi biosite dan situs budaya dikunjungi, mulai dari Kebun Belimbing Ngringinrejo, Museum 13 Panjunan, hingga Kampung Samin.
Kunjungan diawali di Biosite Kebun Belimbing Ngringinrejo, tempat asesor Mr. Andreas Josef Schuller dari Jerman dan Ms. Li Yue dari China diajak menyusuri kawasan agrowisata sembari mendengarkan penjelasan mengenai pengelolaan kebun belimbing yang berkembang menjadi salah satu destinasi unggulan di Bojonegoro.
Di sela kunjungan, kedua asesor menikmati buah belimbing segar yang disajikan bersama bumbu rujak gula merah. Cita rasa khas buah lokal tersebut meninggalkan kesan positif bagi Mr. Andreas.
"It's delicious. I think this place is already very well managed, and I hope it will become even more successful in the future," ujar Mr. Andreas Josef Schuller.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Museum 13 Panjunan di Kecamatan Kalitidu. Kedatangan rombongan disambut para siswa yang antusias memperkenalkan museum beserta koleksi yang dimiliki sekolah. Kedua asesor tampak menyimak penjelasan, mengamati koleksi museum, serta berdialog langsung dengan para siswa.
Pengalaman tersebut menjadi hal yang berkesan bagi Ms. Li Yue. Menurutnya, konsep museum edukasi yang berada di lingkungan sekolah dasar merupakan sesuatu yang belum pernah ia temui sebelumnya.
"I have never seen an elementary school like this before. I am truly amazed," ungkap Ms. Li Yue.
Rangkaian asesmen lapangan hari ketiga ditutup dengan kunjungan ke Kampung Samin, tempat para asesor mempelajari sejarah, nilai-nilai, dan filosofi hidup masyarakat Samin yang diwariskan secara turun-temurun.
Di lokasi tersebut, mereka dikenalkan dengan silsilah keturunan masyarakat Samin, menyaksikan pertunjukan musik tradisional, serta melihat secara langsung proses membatik yang hingga kini masih dilestarikan oleh warga setempat.
Kunjungan ke tiga lokasi tersebut memperlihatkan bahwa Bojonegoro tidak hanya memiliki kekayaan geologi sebagai fondasi pengembangan geopark, tetapi juga didukung keanekaragaman hayati dan warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Sinergi antara geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity itu menjadi salah satu kekuatan Bojonegoro dalam proses menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.
Editor : Arika Hutama
Artikel Terkait
