Peneliti BRIN Ungkap Ancaman Serius Soal Krisis Air Tanah di Bojonegoro

Arika H.
Peneliti BRIN, Gumilar Utamas Nugraha, MT., saat isi kuliah umum di Unigoro. Foto: iNews Bjn

BOJONEGORO, iNewsBojonegoro.id - Peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gumilar Utamas Nugraha, MT., menyoroti pentingnya keberlanjutan air tanah yang kini menjadi tumpuan utama bagi irigasi pertanian serta pasokan air industri di berbagai daerah.

Hal tersebut disampaikan Gumilar saat menjadi narasumber dalam kuliah umum bertajuk “Kimia Hijau untuk Sumber Air Minum” yang diselenggarakan oleh Program Studi Kimia Universitas Bojonegoro (Unigoro) di Hall Suyitno, Selasa (6/1/2026).

Ketua Program Studi Kimia Unigoro, M. Bakhru Thohir, S.Si., M.Sc., menjelaskan bahwa kuliah umum dirancang sebagai ruang diskusi akademik yang relevan dengan isu-isu lokal. Menurutnya, persoalan air merupakan masalah krusial di Kabupaten Bojonegoro.

“Air adalah isu yang sangat dekat dengan Kabupaten Bojonegoro. Saat musim kemarau terjadi kekeringan, sementara pada musim hujan justru banjir. Di sisi lain, Unigoro sebagai institusi pendidikan juga memiliki inovasi IPAH (Instalasi Pengolahan Air Hujan). Karena itu, kami ingin mendapatkan wawasan langsung dari pakar BRIN terkait strategi keberlanjutan air tanah,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Gumilar menjelaskan bahwa air tanah dapat dikaji dari berbagai sudut pandang, mulai dari biologi, fisika, hingga kimia. Namun saat ini, air tanah justru menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan air harian masyarakat, terutama di wilayah pedesaan dan daerah rawan kekeringan.

“Air tanah sering kali menjadi satu-satunya pilihan. Meski Indonesia memiliki banyak sungai, air permukaan tidak selalu bisa dimanfaatkan langsung karena telah terpapar berbagai polutan, terutama limbah domestik rumah tangga,” paparnya.

Gumilar juga menyoroti sulitnya akses masyarakat terhadap air minum yang bersih dan terjangkau. Proses pengolahan air memerlukan teknologi dan infrastruktur yang tidak sederhana, ditambah dengan distribusi yang belum merata. 

Namun demikian, ia menegaskan bahwa persoalan mendasar justru terletak pada kualitas sumber air baku yang terus menurun.

“Ketergantungan kita terhadap teknologi pengolahan air terlalu besar. Paradigma harus diubah, bahwa pencegahan pencemaran lebih utama dibandingkan pengolahan air yang sudah tercemar. Fokusnya adalah mencegah polutan agar tidak masuk ke sumber air,” jelasnya.

Menurut Gumilar, konsep kimia hijau menawarkan solusi strategis dalam menjaga kualitas sumber air. 

Pendekatan ini menekankan pada perancangan produk dan proses kimia yang mampu mengurangi atau menghilangkan penggunaan serta pembentukan zat berbahaya.

“Prinsipnya antara lain menggunakan pelarut yang aman, meminimalkan limbah, memanfaatkan bahan baku terbarukan, serta penggunaan katalis agar reaksi lebih efisien,” ungkapnya.

Di akhir pemaparan, Gumilar juga menekankan keunggulan sistem air tanah yang memiliki proses penyaringan alami, perlindungan dari pencemaran permukaan, serta suhu yang relatif stabil. 

Kondisi tersebut menjadikan air tanah sebagai sumber yang ideal untuk menjamin keamanan air dalam jangka panjang.

Kuliah umum yang dimoderatori oleh Dyah Setyaningrum, S.Si., M.Sc., berlangsung interaktif. 

Sejumlah pelajar SMA/SMK/MA sederajat yang turut hadir aktif mengajukan pertanyaan kepada narasumber, menandai tingginya antusiasme peserta terhadap isu keberlanjutan sumber daya air.

Editor : Arika Hutama

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network